Safety Climate Survey – Survey Iklim Budaya K3 diPabrik Pengawetan Kayu
Mengukur budaya keselamatan dalam suatu Pabrik Pengawetan Kayu perlu dilakukan untuk memberikan gambaran budaya keselamatan yang sesuai dengan kriteria kriteria yang ditetapkan dalam Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Konsultan Safety telah melakukan beberapa kali mengukur penerapan Budaya K3 di Pabrik Pengawetan Kayu dengan mengukur Iklim budaya K3 pekerja di perusahaan tersebut.
Lingkup pelaksanaan pengukuran Iklim budaya K3 di Pabrik Pengawetan Kayu dilakukan melalui tiga tahap:
- Pengumpulan data. Hal ini dicapai melalui serangkaian kuesioner survei K3, wawancara dengan pekerja hingga manajer lokasi, melakukan fokus grup diskusi dengan pekerja untuk mengumpulkan informasi tentang praktik keselamatan kerja setempat masalah budaya di Pabrik Pengawetan Kayu. Pengumpulan data juga dilanjutkan dengan observasi langsung bagaimana prinsip-prinsip keselamatan diterapkan waktu bekerja dan juga mereview penerapan sistem manajemen K3 di loaksi.
- Analisis data. Informasi baik dari kuesioner survei K3, wawancara, fokus grup diskusi, observasi langsung dan review penerapan sistem manajemen K3 dikumpulkan dan dianalisis, dan temuan-temuan kunci akan diintegrasikan dengan hasil survey dan disajikan ke dalam presentasi yang akan digunakan pada Workshop Manajemen Pabrik Pengawetan Kayu.
- Presentasi Hasil ke Manajemen. Sebuah presentasi tehadap temuan untuk perbaikan dan peningkatan dilaksanakan disamapaikan ke managemen Pabrik Pengawetan Kayu tersebut
Pengukuran iklim K3 di Pabrik Pengawetan Kayu sangat berguna untuk menentukan iklim K3 saat sekarang saat diukur, yang dapat dipakai sebagai:
- gambaran yang berguna tentang tingkat budaya K3 organisasi yang ada
- menunjukkan aspek positif dan negatif dari K3 perusahaan
- membantu organisasi mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan manajemen sistem K3
- menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan profil K3 dalam suatu organisasi yang bisa melibatkan pekerja hingga manjemen
- meningkatkan partisipasi karyawan dan tingkat K3 dalam perusahaan
- membantu organisasi mengidentifikasi masalah dengan aturan dan prosedur yang ada dan dapat mengetahui area yang ada ketidakpatuhan
Pengertian Iklim Budaya K3

Istilah ‘budaya’ mengacu pada ‘nilai-nilai dan keyakinan bersama’ yang terlihat menjadi ciri organisasi. Ini sering dibingkai dalam pernyataan dan kebijakan visi perusahaan. Beberapa ahli dalam budaya organisasi menggambarkan bagaimana orang memperoleh ‘program mental’ atau ‘perangkat lunak pikiran’, yang menciptakan pola pemikiran, perasaan dan tindakan. Pola perilaku ini unik untuk organisasi dan sering membedakan satu kelompok (atau kategori) orang dari yang lain.
Budaya K3 dapat dilihat sebagai bagian dari budaya organisasi secara keseluruhan. Ini mungkin digambarkan sebagai nilai-nilai atau keyakinan bersama yang mencirikan K3 dalam organisasi. Ini telah didefinisikan oleh Komite Penasihat K3 di Instalasi Nuklir (ACSNI) sebagai:
‘produk nilai-nilai Pribadi dan kelompok, sikap dan keyakinan, kompetensi dan pola perilaku yang menentukan komitmen, dan gaya dan kecakapan, manajemen K3 organisasi’.
Iklim budaya K3 dalam organisasi Pabrik Pengawetan Kayu, pada kenyataannya, telah tergambarkan sebagai ‘cara kita melakukan sesuatu di sekitar sini sekarang’, atau persepsi ‘bersama’ tentang kebijakan, praktik, dan prosedur. Dengan demikian, iklim K3 menggambarkan aspek organisasi Pabrik Pengawetan Kayu yang dipengaruhi oleh cara orang berperilaku, bagaimana mereka berpikir dan merasa tentang masalah K3.
Pelaksanan Pengukuran Iklim Budaya K3
Iklim K3 akan diukur dengan menggunakan kuesioner survey budaya K3 dan diperkuat dengan interview pada pekerja, grup diskusi, observasi langsung terhadap perilaku pekerja dan review penerapan sistem manajemen K3 di lapangan Pabrik Pengawetan Kayu.
Kuesioner Survei K3
Melakukan survey K3 dengan pertanyaaan untuk mengukur sikap pekerja tentang apa yang dirasakan dan apa yang diyakini berhubungan budaya K3 di tempat kerja Pabrik Pengawetan Kayu yang akan mempengaruhi dalam melaksanakan pekerjaan. Kuesioner survey ini dikirim ke semua level pekerja dari pekerja hingga manajemen baik yang sedang on-duty maupun off-duty . Secara keseluruhan ada 43 pertanyaan, jawaban dari pertanyaan dikelompokkan juga berdasarkan bagian, level pekerja, lama bekerja dan status pekerja di Pabrik Pengawetan Kayu. Kegiatan kuesioner survai K3 dilakukan secara online selama 1 minggu sedangkan untuk wawancara, fokus grup diskusi, observasi pekerja dan review sistem manajemen K3 akan membutuhkan waktu 1-2 minggu di secara online dan di lokasi kerja.

Interview Pekerja
Interview pekerja ini sebagai komunikasi informal untuk menggali lebih dalam tentang ide, saran, kekhawatiran, informasi tentang permasalahan yang sedang dihadapi, atau usulan pendapat tentang permasalahan untuk perbaikan sistem K3 di Pabrik Pengawetan Kayu. Hal lain yang perlu digali lebih dalam interview ini adalah jika ada sikap pasif karyawan yang sering melihat sesuatu tetapi menyimpan informasi itu untuk diri mereka sendiri.
Mengukur persepsi yang dimiliki orang tentang budaya kerja Pabrik Pengawetan Kayu idealnya dilakukan di tempat kerja selama jam kerja dan dalam konteks kelompok. Pengukuran harus menjadi “snapshot” dari budaya K3, dan memastikan interview beberapa pekerja di berbagai posisi

Fokus Grup Diskusi
Melakukan Focus Group Discussion pada 10 group @30 menit per group untuk memberi kesempatan pada pekerja untuk bisa menjelaskan lebih dalam persepsi K3 dari pekerja, dan menggali masalah K3 yang tidak bisa disampaikan secara normal di Pabrik Pengawetan Kayu. Metode yang dipakai dengan memberikan komentar trendline K3 menurut apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan di sepanjang tahun mereka bekerja dan untuk memberikan kesempatan bagi pekerja untuk menyampaikan usulan-usulan penting yang sulit disampaikan kepada managemen.
Disisi lain Focus Group Discusion juga sebagai sarana untuk mendapatkan informasi tambahan yang berhubungan dengan elemen Safety Climate Survey yang mempunyai response rendah.

Obervasi langsung
Observasi langsung ini untuk melihat dan memahami perilaku pekerja waktu bekerja di lapangan dan diukur dengan menggunakan metode Based Behaviour Safety (BBS) dengan prinsip Antecedent Behavior Consequence (ABC) perilaku model. ABC model ini mengasumsikan bahwa semua perilaku memiliki satu atau lebih anteseden memulai perilaku dan satu atau lebih konsekuensi yang bisa menyebabkan seseorang pengulangan perilaku. Observasi langsung ini lebih ditujukan pada kepatuhan terhadap standar aturan K3 sedang untuk percakapan dengan pekerja terbatas jika terdapat perilaku yang tidak aman di Pabrik Pengawetan Kayu.

Review Penerapan Sistem manajemen K3
Tujuan dari review penerapan sistem manajemen K3 adalah untuk memastikan bahwa pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana HSE yang telah disepakati di dalam kontrak dan melihat bukti penerapannya sesuai stardar kaidah sistem manajemen K3 di Pabrik Pengawetan Kayu.

