Stand up for Safety – Mengapa Pekerja Tidak Melaporkan Saat Ada Insiden


Jasa Konsultan K3

Stand up for Safety – Mengapa pekerja tidak melaporkan saat ada insiden

Bagi perusahaan dengan kategori level budaya K3nya {Pathologi|belum berkembang, maka ada banyak kejadian yang tidak dilaporkan oleh pekerja bahkan jika terjadi kecelakaan kerjapun tidak dilaporkan bahkan disembunyikan dengan berbagai alasan. Kondisi seperti ini tentunya sangat merugikan perusahaan, karena ada kondisi tertentu bisa menyebakan kecelakaan besar. Ada beberapa alasan umum mengapa pekerja sampai menyembunyikan adanya insiden yang terjadi:

A.Tatanan SMK3 yang kurang memadai:

  • Tidak ada sistem secara formal yang memungkinkan karyawan untuk menginformasikan insiden K3, termasuk kecelakaan dan yang serius, terjadi di organisasi. Perusahaan perlu mempunyai sistem untuk mencatat dan menindaklanjuti laporan kecelakaan dan sistem untuk mencatat laporan kondisi tidak aman dan perilaku tidak aman. Jika organisasi membuat sistem maka sistem tersebut perlu dijelaskan dengan baik tidak hanya untuk pekerja saja tetapi juga untuk managemen. Terutama untuk pelaporan kondisi tidak aman, dan perilaku tidak aman perlu beri target sebagai contoh 1 kali dalam 1 minggu.
  • Pekerja tidak menginformasikan kejadian K3 yang terjadi karena mereka merasa tidak cukup nyaman dalam kaitannya dengan perusahaan. Keterbukaan managemen dalam menanggapi laporan insiden sering kali reaktif, tidak mencari solusi malah mencari siapa yang dapat dipersalahkan. Dalam beberapa hal managemen tidak menindaklanjuti laporan yang dibuat oleh pekerja. Bagi pekerja tidak lanjut laporannya merupakan hal yang sangat penting namun bagi Management bisa jadi dianggap sebagi hal yang tidak penting.
  • Tidak ada indikator performa keselamatan di tempat kerja. Pekerja tidak menegerti status atau performa kinerja Keselamatan kerja organisai itu sampai sejauh mana? Karena tidak pernah ada followup dari suatu insiden. Dari sisi manajemen seringkali takut juga dinilai performa jelek oleh pekerja jika laporan kecelakaan kerjanya di buka.

B. Budaya K3 masih konvensional.

1. Pemikiran Kelompok (group thinking).

Disisi lain yang perlu juga diperhatikan adanya pemikiran kelompok yang mempengaruhi pengambilan keputusan dari pekerja yang ada dalam kelompok itu. Mereka mempertimbangkan apakan laporan insiden tersebut akan menguntungkan kelompok mereka atau tidak? Beberapa pekerja ketika ditanya hal-hal yang berhubungan dengan informasi suatu insiden, maka mereka bersikap pura-pura tidak tahu, dengan menatap langit, memutar-putar pensil atau gerakan lainnya yang menunjukkan ada yang disembunyikan karena adanya pertimbangan kepentingan kelompok.

Untuk mengubah paradigma ini, manajemen perlu menhargai pekerja-pekerja yang mau membuat laporan insiden, kondisi tidak aman maupun perilaku tidak aman. Dalam melaporkan kecelakaan besar harus lebih rinci dibandingkan dengan pelaporan kondisi tidak aman maupun perilaku tidak aman. Juga pelaporan perilaku tidak aman sebaiknya tidak mencantumkan nama personil yang melakukannya.

2. Sikap managemen yang tidak tegas.

Sikap managemen yang tidak tegas ini mempengaruhi tindakan dari pekerja sehingga pekerja juga bersikap kurang tegas ketika terjadi suatu insiden mereka lebih suka menunggu sikap manajemen kemudian baru bertindak. Pekerja takut terjadi kesalahan jika berbuat sesuatu yang mendahului sikap managemen. Pekerja lebih “Wait and See” termasuk hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan kerja.

Jika sikap ini berlangsung terus menerus maka pekerja menjadi enggan, tidak peduli, dan merasa tidak ada gunanya melaporkan kondisi-kondisi tidak aman. Sikap negatif dapat menyebabkan pekerja bersikap ceroboh, merasa mengambil jalan pintas, puas diri, atau bahkan beralasan untuk mengalihkan perhatian dari tugas pekerjaan.
Sikap negatif terhadap keselamatan secara khusus pada akhirnya akan menghasilkan perilaku berbahaya. Perilaku tidak aman menyebabkan insiden yang terjadi di tempat kerja yang mengakibatkan cedera atau kerusakan hingga fatality.

C.Langkah Perbaikan berkelanjutan:

1. Sederhanakan tatanan sistem managemen K3.

Organisasi perlu fokus pada prosedure yang penting untuk menjaga keselamatan pekerja. Ini bukan berarti mengabaikan prosedure normatif lainnya. Organisasi harus menekankan kepada manajemen dan pekerja untuk memahami prosedur Indentifikasi Bahaya Penilaian dan Pengendalian Risiko, Pelaporan Insiden, Investigasi Kecelakaan.

2. Perbaiki komitmen manajemen

Tidak ada yang menyukai ketidakpastian termasuk para pekerja. Pekerja harus bisa melihat dan merasakan komitmen manajemen. Ini merupakan langkah awal untuk meyakinkan pekerja dengan menghilangkan keraguan pekerja saat melaporkan hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan kerja. Pekerja harus merasa nyaman saat melaporkan permasalahan keselamatan kerja termasuk perbaikan yang behubungan dengan sikap managemen ataupun perbaikan yang membutuhkan biaya besar.

Managemen perlu terbiasa untuk mendengarkan masukan dari pekerja yang berhubungan dengan keselamatan kerja dan memberikan respon balik dan solusi perbaikan. Perubahan sikap dari managemen yang terlihat dan dirasakan oleh pekerja akan memberikan keyakinan penuh bahwa managemen mensupport penuh saat mereka melaporkan permaslahan yang berhubungan dengan keselamatan kerja.

Jika perusahaan Anda butuh support untuk pengembangan Stand up for Safety, Please contact us| Konsultan Safety 08111246468